Skip to main content
Mom Baby

follow us

Pentingnya Silaturahmi dengan Keluarga

Silaturahmi dengan keluarga sangat disarankan bagi moms yang belum juga mempunyai momongan atau sedang menjalani program hamil. Karena dengan silaturahmi kita dapat memper erat hubungan keluarga.

Dan yang paling utama didalam silaturahmi itu sendiri adalah mita do'a dari beberapa pihak keluarga agar dicepatkan mendapat momongan (keturunan/ anak).

Moms, waktu mengandung dan mempunyai momongan itu sebenarnya sudah ditetapkan oleh kekuasaan sang Maha Kuasa. Jadi, sebenarnya kita hanya menunggu dan bersabar saja, itu pun harus dibarengi dengan ikhtiar.

Bagi bunda yang masih memiliki keluarga. Silakan temuai/ kunjungi semua sanak sodara. Sayangi mereka (mertua/ keluarga dari mertua) seperti halnya keluarga sendiri.

Kalau bisa moms, agendakan untuk berkumpul dengan keluarga. Bisa dilakukan dengan makan-makan (dalam rangka syukuran), berkunjung ke tempat wisata dan lain sebagainya.

Jika moms sudah memiliki anggota keluarga baru atau momongan (dikaruniai seorang anak), maka moms juga jangan lupa dengan keluarga. Seolah-olah seperti dulu ketika belum punya anak, sering main/ silaturahmi. Setelah begitu punya anak sudah jarang bermain/ silaturahmi lagi.

Terkecuali jika ada waktu yang tidak bisa memungkinkan untuk keluar kota. Seperti pada masa pandemik covid-19 sekarang ini (Thn 2020).

Sebenarnya saya juga sudah ada agenda untuk pergi ke Subang, Indramayu, Sumedang, dan tempat tinggal keluarga lainnya. Karena waktu yang tidak memungkinkan, saya sangat memohon maaf dengan sepenuh hati karena tidak dapat berkunjung/ silaturahmi.

Istri Solehah

Sebagai tambahan untuk seorang istri dan mungkin poin ini tidak sesuai dengan judul artikel ini, akan tetapi ini mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan kita dengan suami dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu saya sampaikan mengenai tiga poin yang akan disampaikan pada artikel kali ini.

Berdasarkan pengalaman saya sewaktu masih di Pondok Pesantren bahwa istri solehah itu memiliki 3 ciri. Ciri tersebut yaitu diantaranya sebagai berikut.

Jika dipandang, menyenangkan suami

Makna dari poin ini adalah seorang istri harus dapat berpenampilan baik yang pastinya dapat menyenangkan suaminya. Artinya tidak berlebihan ketika berada di luar rumah yang dapat menarik perhatian banyak orang. Seperti menggunakan wewanginan, menghias diri, berpakaian, dan sebagainya yang jelas tidak boleh berlebihan. Berpenampilan natural lebih disarankan. Karena menghindari fitnah yang tidak diinginkan.

Kecuali ketika seorang istri berdiam diri didalam rumah bersama suaminya. Berlebihan sangat dianjurkan, sehingga suami merasa disenangkan dan dibahagiakan oleh keberadaan istrinya.

Istri yang solehah adalah istri yang selalu sibuk menghias diri didalam rumah ketika ada suaminya. Karena dengan hal tersebut, jika suami merasa senang memandang istrinya, maka medapatlah keduanya pahala rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Dan sebaliknya jika seorang istri terlalu sibuk menghias diri karena urusan diluar lalu suaminya membiarkannya, maka dari keduanya memperoleh dosa. Jika istrinya pernah dilarang oleh suaminya tapi tetep ngeyel, maka dosanya akan ditanggung oleh istrinya itu sendiri dan dicap sebagai istri yang durhaka kepada suaminya karena ketidak taatannya kepada suami.

Taat dan Patuh kepada Suami

Seorang istri hendaknya taat dan padtuh kepada suami. Selagi suami memerintahkan ke hal-hal yang baik, maka kerjakan secara ikhlas ridha lillahi ta'ala dengan mematuhi dan menaatinya.

Kecuali jika suami memerintahkan ke hal-hal yang tidak baik, maka kita sebagai seorang istri diharapkan untuk tidak menurutinya. Kita pun tidak akan disebut sebagai istri durhaka malah kita akan memperoleh pahala disisi Allah subhanahu wata'ala.

Oleh karena itu, jadilah istri yang benar-benar taat dan patuh kepada suami dengan selalu berusaha untuk tidak melawan atau membantah ketika disuruh oleh suami pada perkara yang baik.

Menjaga diri ketika suami sedang keluar

Menjaga diri ketika ditinggal suami keluar rumah. Jika ingin keluar rumah, diharapkan untuk meminta izin terlebih dahulu pada suami. Apalagi zaman sekarang lebih mudah daripada zaman sebelum ada ponsel. Sekarang hanya nelphone ke suami minta izin lalu suami pun akan memberikan izin dengan penuh beberapa pertimbangan. Jika tidak diizinkan, maka terimalah dengan lapang dada.

Peristiwa tersebut terdapat pada kitab 'Uqudu luzain bahwa pada zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ada seorang sahabat yang berperang dijalan Allah yaitu membela Islam dengan meninggalkan seorang istri.

Kemudian pada saat itu ada kabar bahwa ayah dari istri tersebut sedang sakit. Istrinya tidak beranai untuk menengoknya karena belum ada izin dari suaminya. Seandainya suaminya tahu, pasti akan diizinkan untuk menemui ayahnya.

Beberapa hari kemudian dia pun mendapat kabar dari sodaranya bahwa ayahnya sedang koma. Dia pun tetap tidak dapat menemuninya karena suaminya belum pulang dengan selalu berharap ketika suaminya pulang diizinkan oleh suaminya.

Setelah ada kabar berita duka, yaitu ayahnya meninggal dunia. Dia pun tidak dapat menemuni ayahnya karena belum ada izin dari sumi yang belum juga pulang. Akhirnya seseorang yang memberikan kabar berita duka ini mengadu kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalama.

Dia (kerabatnya) yang memberikan kabar duka itu menceritakan semua perihal di atas kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dan beliau menjawab : semua dosa-dosa orangtuanya yang telah meninggal telah diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala karena ketaatan anaknya kepada suami.

Dengan ikhtiar yang sudah dilakukan. Seperti silaturahmi dan lain-lain, Insya Allah akan diberi jalan dan dipermudah untuk memiliki momongan.

Demikianlah artikel tentang pentingnya bersilaturahmi dengan keluarga. Baik keluarga suami maupun sebaliknya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar