Harap Tidak Memberikan Beberapa Jenis Makanan Ini pada Si Kecil

Memasuki usia 6 bulan, umumnya anak sudah bisa diberi makanan pendamping atau disebut MPASI. Namun, tahukah bunda ternyata ada beberapa jenis makanan yang memang tidak disarankan untuk diberikan pada si kecil lho.

Untuk lebih jelasnya postingan kali ini, kami akan memberikan informasi penting seputar jenis makanan yang memang tidak boleh diberikan pada anak. Perlu dicatat nih Moms, bahwa kata anak yang ada di dalam postingan ini adalah mereka yang berusia di bawah 12 bulan.

Dimana anak sudah atau akan diberikan makanan pendamping asi, karena asi saja tidaklah cukup.

Berikut Jenis Makanan yang Dihindari

Beberapa jenis makanan yang mengandung bahan-bahan kurang baik sebaiknya dihindari

Di bawah ini adalah beberapa jenis makanan yang dihindari saat memulai MPASI:

Makanan berlemak

Beberapa jenis makanan sulit dicerna oleh tubuh bayi. Ini disebabkan oleh keterbatasan enzim lipase, yaitu enzim pencerna lemak, dalam usus bayi. Keterbatasan ini dapat membuat proses pencernaan makanan berlemak menjadi sulit bagi tubuh bayi.

Makanan berlemak dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan bayi. Salah satunya adalah menyebabkan bayi mengalami kembung. Selain itu, makanan berlemak juga bisa menyebabkan diare pada bayi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua atau pengasuh untuk memahami jenis makanan yang sebaiknya dihindari agar dapat menjaga kesehatan pencernaan bayi.

Sebagai alternatif, disarankan untuk memilih makanan yang lebih mudah dicerna oleh tubuh bayi. Makanan seperti buah-buahan lembut dan sayuran yang dimasak dengan baik dapat menjadi pilihan yang baik. Dengan memperhatikan jenis makanan yang diberikan, orang tua dapat membantu memastikan kesehatan pencernaan bayi dan mencegah masalah kembung serta diare yang mungkin timbul akibat konsumsi makanan yang sulit dicerna.

Madu

Bayi yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sensitif atau belum sepenuhnya matang rentan mengalami masalah kesehatan setelah mengonsumsi madu. Diare, kembung, atau kolik bisa menjadi gejala yang muncul, terutama jika madu yang diberikan adalah jenis asli atau belum dimurnikan. Meskipun demikian, alasan utama mengapa madu sebaiknya tidak diberikan pada bayi di bawah usia 12 bulan adalah karena kandungan bakteri Clostridium botulinum yang ada dalam madu.

Madu dapat menjadi media yang ideal untuk pertumbuhan bakteri Clostridium botulinum. Keracunan akibat bakteri ini dapat memiliki dampak serius bahkan fatal pada bayi. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghindari memberikan madu pada bayi di bawah usia 12 bulan guna mencegah risiko terhadap kesehatan mereka.

Sebagai gantinya, disarankan untuk memilih pilihan makanan yang aman untuk bayi di bawah usia 12 bulan, seperti ASI atau formula bayi yang dirancang khusus. Pemilihan makanan yang tepat dapat membantu melindungi kesehatan bayi dan mengurangi risiko masalah kesehatan yang mungkin timbul akibat konsumsi madu.

Telur mentah atau setengah matang

Memberikan telur yang tidak matang pada bayi dapat meningkatkan risiko keracunan karena kemungkinan adanya bakteri Salmonella dalam telur yang belum dimasak sepenuhnya. Dengan sistem pencernaan yang masih rentan, biyi lebih rentan terhadap infeksi bakteri tersebut.

Telur mentah juga dapat menimbulkan masalah pencernaan pada bayi. Kandungan antitripsin dalam telur mentah dapat menghambat proses pencernaan protein telur di dalam usus. Hal ini dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pencernaan dan potensialnya masalah kesehatan pada bayi.

Untuk menghindari risiko tersebut, penting bagi orang tua atau pengasuh untuk memastikan telur matang sepenuhnya sebelum diberikan pada bayi. Pilihan memasak telur dengan baik akan memudahkan pencernaan protein dan membantu menghindari bakteri yang merugikan.

Kacang utuh

Pemberian kacang, terutama kacang tanah, dan produk olahannya dapat dimulai pada bayi sejak usia 6 bulan, asalkan bayi tersebut tidak memiliki riwayat alergi terhadap kacang dalam keluarganya. Ini merupakan langkah penting dalam memperkenalkan variasi makanan pada bayi dan memberikan sumber nutrisi tambahan.

Meskipun kacang adalah makanan yang baik, tetapi perlu dihindari memberikan kacang-kacangan atau biji-bijian dalam keadaan utuh pada anak di bawah usia lima tahun. Ini disebabkan oleh risiko tersedak yang dapat terjadi ketika anak mencoba mengunyah kacang atau biji-bijian yang kecil. Pilihan yang lebih aman adalah memberikan produk olahan kacang atau memasaknya dengan cara yang sesuai untuk meminimalkan risiko tersebut.

Selalu penting untuk memperhatikan riwayat alergi dalam keluarga dan melihat reaksi anak terhadap makanan baru. Jika ada tanda-tanda alergi, seperti ruam atau kesulitan bernapas, segera konsultasikan dengan profesional kesehatan. Selain itu, pastikan anak sudah siap secara perkembangan untuk mengonsumsi makanan padat dan menghindari memberikan makanan yang dapat menyebabkan tersedak.

Garam

Termasuk semua jenis produk yang mengandung garam seperti kaldu blok, kecap asin atau penyedap rasa.

Memberikan garam pada makanan bayi dapat memberikan beban pada ginjal yang masih berkembang dan berfungsi belum sepenuhnya. Ginjal bayi belum siap untuk mengatasi kadar garam yang tinggi, sehingga sebaiknya hindari memberikan garam pada makanan bayi yang masih sangat muda.

Disarankan untuk baru menambahkan garam pada makanan bayi setelah mencapai usia 8 bulan atau lebih. Pada titik ini, sistem pencernaan dan ginjal bayi telah lebih matang, dan mereka lebih mampu mengatasi jumlah garam yang lebih kecil.

Disarankan pada usia 8 bulan ini untuk membatasi jumlah garam yang ditambahkan, yaitu sekitar 1/4 sendok teh. Pembatasan ini penting untuk menjaga keseimbangan garam dalam tubuh bayi dan mencegah risiko komplikasi kesehatan yang dapat timbul akibat konsumsi garam berlebihan.

Gula dan pemanis buatan

Gula olahan seperti gula pasir, gula merah, dan sirup sebaiknya dihindari dalam jumlah yang berlebihan pada makanan bayi. Konsumsi gula secara berlebihan atau makanan yang terlalu manis dapat mengakibatkan gangguan selera makan terhadap makanan yang lebih bergizi.

Terlalu banyak gula dalam makanan bayi dapat membuatnya cenderung lebih memilih makanan yang manis, mengurangi minatnya terhadap makanan yang kaya nutrisi. Ini dapat mempengaruhi perkembangan pola makan sehat yang seimbang.

Penggunaan pemanis buatan juga sebaiknya dihindari pada bayi, karena dapat berdampak tidak baik pada kesehatan ginjal mereka. Bayi memiliki sistem ekskresi yang belum sepenuhnya matang.

Selalu penting untuk memperhatikan dan mengontrol asupan gula pada makanan bayi serta memilih makanan yang memberikan nutrisi yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Makanan yang mengandung nitrat

Nitrat merupakan senyawa alami yang ditemukan dalam tumbuhan terutama pada sayuran. Proses konversi nitrat menjadi nitrit terjadi dalam waktu 1-2 hari setelah sayuran dipanen.

Nitrit yang dihasilkan dari konversi nitrat dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah untuk membentuk methemoglobin. Methemoglobin tidak dapat mengikat oksigen dengan baik yang dapat menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

Oleh karena itu, sayuran yang cenderung mengandung nitrat tinggi seperti wortel, bit, bayam, dan sawi hijau sebaiknya tidak diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Langkah ini diambil untuk menghindari risiko terjadinya reaksi methemoglobinemia yang dapat mengganggu kesehatan bayi.

Makanan yang mengandung gluten

Gluten adalah protein yang dapat ditemukan dalam gandum, rye, barley, dan oat/havermut termasuk dalam produk olahan seperti roti, kue, biskuit, dan pasta.

Pemberian makanan yang mengandung gluten sebaiknya dihindari pada bayi di bawah usia 6 bulan. Pada kasus tertentu, pemberian gluten pada bayi dapat menyebabkan gejala seperti kembung, mual, dan diare.

Meskipun gejala intoleransi gluten mungkin muncul pada awal pemberian makanan padat. Namun seiring pertambahan usia anak, gejala tersebut cenderung menghilang. Sistem pencernaan anak berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan kemampuannya untuk mencerna gluten dapat meningkat.

Susu sapi (whole milk, susu segar)

Susu sapi tidak dianjurkan sebagai minuman untuk bayi di bawah usia 12 bulan karena mengandung zat besi yang rendah dan tingkat natrium, kalium, serta klorida yang tinggi. Unsur-unsur tersebut dapat mempengaruhi kerja ginjal pada bayi yang masih dalam tahap perkembangan.

Selain itu, susu sapi juga mengandung protein yang dapat memicu alergi pada bayi terutama beta-laktoglobulin. Gejala alergi yang mungkin muncul termasuk diare, muntah, eksim, atau ruam kulit.

Sebagai alternatif yang lebih aman, pada usia di bawah 12 bulan disarankan untuk memberikan ASI eksklusif atau formula bayi yang dirancang khusus. Kedua opsi ini lebih sesuai dengan kebutuhan gizi dan toleransi terhadap sistem pencernaan bayi.

Baca juga: Manfaat Zat Besi untuk Bayi sebagai Superfood di masa MPASI

Bagaimana Sudah Tahu Jenis Makanan yang Dihindari Saat Memulai MPASI?

Beberapa jenis makanan yang mengandung bahan-bahan kurang baik sebaiknya dihindari. Makanan berlemak tinggi atau makanan yang sulit dicerna dapat menyebabkan masalah pencernaan pada bayi termasuk kembung dan diare. Oleh karena itu, perencanaan menu yang memperhatikan kebutuhan nutrisi dan kemampuan pencernaan si kecil menjadi kunci utama dalam memberikan makanan yang tepat.

Selain itu, penting untuk memperhatikan rekomendasi umur saat memberikan makanan tertentu. Sebagai contoh, memberikan gula atau makanan manis-manis pada bayi dapat memengaruhi selera makan mereka terhadap makanan yang lebih sehat. Begitu juga dengan memberikan makanan berbasis gluten atau susu sapi yang sebaiknya dihindari pada bayi di bawah usia tertentu untuk mencegah risiko intoleransi atau alergi. Mengenali batasan-batasan ini akan membantu dalam menyusun menu yang sesuai dengan tahapan perkembangan si kecil.

Dalam menghadapi berbagai pilihan makanan, kesadaran akan berisiko dan manfaat menjadi kunci dalam memberikan asupan nutrisi yang tepat bagi si kecil. Berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi dapat memberikan panduan lebih lanjut untuk memastikan bahwa kebutuhan gizi dan perkembangan si kecil terpenuhi secara optimal.