Sifat Neraka dan Penghuninya I Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 24

Kitab Tanbihul Ghafilin
Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 24 karya ulama besar mazhab Hanafi, Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H)

“Lemparkan mereka, lemparkan mereka ke dalam neraka.” Maka ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka, mereka semua berseru: “Lā ilāha illallāh.” Maka api neraka pun menjauh dari mereka. Lalu Malik berkata: “Wahai api, ambillah mereka.” Neraka berkata: “Bagaimana aku mengambil mereka sedangkan mereka mengucapkan Lā ilāha illallāh?” Maka Malik berkata lagi kepada neraka: “Ambillah mereka.” Neraka berkata: “Bagaimana aku mengambil mereka sedangkan mereka mengucapkan Lā ilāha illallāh?” Maka Malik berkata: “Ya, dengan itulah Tuhan Pemilik Arsy memerintahkan.” Maka api mengambil mereka. Di antara mereka ada yang disambar hingga kedua telapak kakinya, ada yang sampai kedua lututnya, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang sampai tenggorokannya. Ketika api hendak membakar wajahnya, Malik berkata: “Jangan bakar wajah-wajah mereka, karena dahulu mereka sering bersujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih di dunia. Dan jangan bakar hati-hati mereka, karena dahulu mereka pernah merasa haus pada bulan Ramadan.” Maka mereka tinggal di dalam neraka selama masa yang Allah kehendaki, dan mereka berkata: “Wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Pemberi karunia.”

Maka ketika Allah Ta‘ala telah menyelesaikan keputusan-Nya, Dia berfirman: “Wahai Jibril, bagaimana keadaan orang-orang bermaksiat dari umat Muhammad ﷺ?” Maka Jibril berkata: “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan mereka.” Allah berfirman: “Pergilah dan lihatlah bagaimana keadaan mereka.” Maka Jibril ‘alaihis salam pergi menuju Malik yang berada di atas mimbar dari api di tengah Jahannam. Ketika Malik melihat Jibril ‘alaihis salam, ia berdiri untuk memuliakannya. Malik berkata: “Wahai Jibril, apa yang membuatmu datang ke tempat ini?” Jibril berkata: “Bagaimana keadaan kelompok pendosa dari umat Muhammad?” Malik menjawab: “Betapa buruk keadaan mereka dan betapa sempit tempat mereka. Tubuh mereka telah terbakar dan daging mereka telah habis dimakan api, sedangkan wajah dan hati mereka masih bercahaya dengan iman.”

Maka Jibril berkata: “Angkat penutup dari mereka agar aku dapat melihat mereka.” Ia berkata: Maka Malik memerintahkan para penjaga neraka, lalu mereka mengangkat penutup itu dari mereka. Ketika mereka melihat Jibril dan melihat indahnya rupa beliau, mereka mengetahui bahwa ia bukan termasuk malaikat azab. Maka mereka berkata: “Siapakah hamba ini? Kami belum pernah melihat seorang pun yang lebih tampan darinya.” Malik berkata: “Ini adalah Jibril, makhluk mulia di sisi Tuhannya, yang dahulu datang kepada Muhammad ﷺ membawa wahyu.” Ketika mereka mendengar nama Muhammad ﷺ, mereka semua berteriak seraya berkata: “Wahai Jibril, sampaikan salam kami kepada Muhammad ﷺ dan kabarkan kepadanya bahwa kemaksiatan kami telah memisahkan kami darimu, serta kabarkan kepadanya buruknya keadaan kami.”

Maka Jibril pergi hingga berdiri di hadapan Allah Ta‘ala. Allah berfirman: “Bagaimana engkau melihat umat Muhammad?” Jibril berkata: “Wahai Tuhanku, betapa buruk keadaan mereka dan betapa sempit tempat mereka.” Allah berfirman: “Apakah mereka meminta sesuatu kepadamu?” Jibril menjawab: “Ya Tuhanku, mereka memintaku untuk menyampaikan salam mereka kepada nabi mereka dan mengabarkan buruknya keadaan mereka.” Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Pergilah dan kabarkan kepadanya.” Maka Jibril pergi menemui Nabi ﷺ, sedangkan beliau berada di dalam kemah dari mutiara putih yang memiliki empat ribu pintu, dan setiap pintu mempunyai dua daun pintu dari emas. Jibril berkata: “Wahai Muhammad, aku datang kepadamu dari kelompok pendosa dari umatmu yang sedang disiksa di dalam neraka. Mereka menyampaikan salam kepadamu dan berkata: ‘Betapa buruk keadaan kami dan betapa sempit tempat kami.’”

Maka Nabi ﷺ datang ke bawah Arsy lalu bersujud dan memuji Allah Ta‘ala dengan pujian yang belum pernah seorang pun memuji-Nya seperti itu. Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Angkatlah kepalamu, mintalah niscaya engkau diberi, dan berilah syafaat niscaya syafaatmu diterima.” Maka beliau berkata: “Wahai Tuhanku, orang-orang celaka dari umatku telah Engkau jalankan keputusan-Mu atas mereka dan Engkau telah menyiksa mereka, maka jadikanlah aku pemberi syafaat bagi mereka.” Allah Ta‘ala berfirman: “Aku telah menerima syafaatmu untuk mereka. Datangilah neraka dan keluarkanlah darinya orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh.”

Maka Nabi ﷺ pergi. Ketika Malik melihat Nabi ﷺ, ia berdiri untuk memuliakannya. Nabi ﷺ berkata: “Wahai Malik, bagaimana keadaan umatku yang celaka itu?” Malik menjawab: “Betapa buruk keadaan mereka dan betapa sempit tempat mereka.” Maka Muhammad ﷺ berkata: “Bukalah pintu dan angkat penutup itu.” Ketika penghuni neraka melihat Muhammad ﷺ, mereka semua berteriak dan berkata: “Wahai Muhammad, api neraka telah membakar kulit-kulit kami dan membakar hati kami.” Maka beliau mengeluarkan mereka semuanya dalam keadaan telah menjadi arang karena dimakan api neraka.

Kemudian beliau membawa mereka menuju sebuah sungai di pintu surga yang disebut Sungai Kehidupan. Mereka mandi di dalamnya, lalu keluar darinya dalam keadaan muda, tidak berjanggut, tampan, bercelak, dan wajah mereka seperti bulan. Di dahi mereka tertulis: “Al-Jahannamiyyun, orang-orang yang dibebaskan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dari neraka.” Lalu mereka masuk surga. Ketika penghuni neraka melihat bahwa kaum muslimin telah dikeluarkan dari neraka, mereka berkata: “Seandainya dahulu kami menjadi orang-orang muslim, tentu kami juga akan keluar dari neraka.” Itulah firman Allah Ta‘ala: “Seringkali orang-orang kafir berharap sekiranya dahulu mereka menjadi orang-orang muslim.”

“Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: ‘Kematian akan didatangkan dalam rupa seekor kambing putih kehitam-hitaman. Lalu dikatakan: Wahai penghuni surga, apakah kalian mengenal kematian? Maka mereka melihatnya dan mengenalnya. Dan dikatakan: Wahai penghuni neraka, apakah kalian mengenal kematian? Maka mereka melihatnya dan mengenalnya. Kemudian kambing itu disembelih di antara surga dan neraka. Lalu dikatakan: Wahai penghuni surga, kekal tanpa kematian. Wahai penghuni neraka, kekal tanpa kematian.’ Itulah firman Allah Ta‘ala: ‘Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan ketika segala perkara telah diputuskan…’” Abu Hurairah berkata…


Referensi: Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 24

Posting Komentar untuk "Sifat Neraka dan Penghuninya I Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 24"