Sifat Neraka dan Penghuninya I Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 23

Kitab Tanbihul Ghafilin
Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 23 karya ulama besar mazhab Hanafi, Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H)

“.......(Mereka adalah) para pelaku dosa besar dari umatmu yang meninggal dunia dan belum bertaubat.” Maka Nabi ﷺ jatuh pingsan, lalu Jibril meletakkan kepala beliau di pangkuannya hingga beliau sadar kembali. Setelah sadar beliau berkata, “Wahai Jibril, sungguh besar musibahku dan sangat berat kesedihanku. Apakah ada dari umatku yang akan masuk neraka?” Jibril menjawab, “Ya, yaitu para pelaku dosa besar dari umatmu.” Maka Rasulullah ﷺ pun menangis dan Jibril juga menangis. Setelah itu Rasulullah ﷺ masuk ke rumahnya dan mengasingkan diri dari manusia. Beliau tidak keluar kecuali untuk menunaikan salat, lalu kembali masuk dan tidak berbicara dengan siapa pun. Dalam salat beliau menangis dan bermunajat kepada Allah Ta‘ala. Ketika tiba hari ketiga, datanglah Abu Bakar رضي الله عنه hingga berdiri di depan pintu seraya berkata, “Assalamu‘alaikum wahai penghuni rumah rahmat, adakah jalan untuk bertemu Rasulullah ﷺ?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya, maka ia pun pergi sambil menangis. Kemudian datang Umar رضي الله عنه dan berdiri di depan pintu seraya berkata, “Assalamu‘alaikum wahai penghuni rumah rahmat, adakah jalan untuk bertemu Rasulullah ﷺ?” Tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya, maka ia pun pergi sambil menangis. Lalu datang Salman Al-Farisi hingga berdiri di depan pintu dan berkata, “Assalamu‘alaikum wahai penghuni rumah rahmat, adakah jalan untuk bertemu junjunganku Rasulullah ﷺ?” Tetapi tidak ada yang menjawabnya. Maka ia pun berjalan sambil sesekali menangis, terjatuh, lalu bangkit kembali hingga sampai ke rumah Fatimah dan berdiri di depan pintu seraya berkata, “Assalamu‘alaikum wahai putri Rasulullah ﷺ.” Saat itu Ali رضي الله عنه sedang tidak berada di rumah. Salman berkata, “Wahai putri Rasulullah, sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari manusia. Beliau tidak keluar kecuali untuk salat, tidak berbicara kepada siapa pun dan tidak mengizinkan seorang pun masuk.” Maka Fatimah mengenakan jubahnya lalu datang hingga berdiri di depan pintu Rasulullah ﷺ, kemudian memberi salam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku Fatimah.” Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bersujud sambil menangis. Beliau mengangkat kepala dan berkata, “Ada apa wahai penyejuk hatiku Fatimah? Mengapa engkau dihalangi dariku? Bukakan pintu untuknya.” Maka Fatimah pun masuk. Ketika melihat Rasulullah ﷺ, ia menangis dengan sangat keras karena melihat keadaan beliau yang pucat dan berubah, sementara daging wajah beliau tampak menyusut akibat banyak menangis dan bersedih. Fatimah berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang telah menimpamu?” Beliau menjawab, “Wahai Fatimah, Jibril datang kepadaku dan menjelaskan kepadaku pintu-pintu Jahannam serta memberitahuku bahwa di pintu paling atas terdapat para pelaku dosa besar dari umatku. Itulah yang membuatku menangis dan bersedih.” Fatimah berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka masuk ke dalam neraka dari kalangan umatmu?” Beliau menjawab, “Ya, para malaikat menggiring mereka ke neraka, namun wajah mereka tidak dihitamkan, mata mereka tidak dibirukan, mulut mereka tidak disegel, mereka tidak dirantai bersama setan, dan tidak dipasang belenggu serta rantai pada mereka.” Fatimah berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat menggiring mereka?” Beliau menjawab, “Adapun laki-laki maka ditarik dengan janggut mereka, sedangkan para wanita ditarik dengan ubun-ubun dan rambut mereka. Betapa banyak orang tua dari umatku yang ditarik janggutnya dan digiring ke neraka sambil berseru, ‘Aduhai masa tuaku, aduh lemahnya diriku!’ Dan betapa banyak pemuda yang ditarik janggutnya menuju neraka sambil berseru, ‘Aduhai masa mudaku dan indah rupaku!’ Dan betapa banyak wanita dari umatku yang ditarik ubun-ubunnya menuju neraka sambil berseru, ‘Aduhai kehinaanku dan terbukanya aibku!’ Hingga akhirnya mereka dibawa kepada Malik. Ketika Malik melihat mereka, ia berkata kepada para malaikat, ‘Siapakah mereka ini? Belum pernah datang kepadaku orang-orang celaka yang lebih aneh keadaannya daripada mereka. Wajah mereka tidak dihitamkan, mata mereka tidak dibirukan, mulut mereka tidak disegel, mereka tidak dirantai bersama setan, dan tidak dipasang rantai serta belenggu di leher mereka.’ Maka para malaikat menjawab, ‘Demikianlah kami diperintahkan untuk membawa mereka dalam keadaan seperti ini.’ Lalu Malik berkata kepada mereka, ‘Wahai orang-orang celaka, siapakah kalian?’ Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika para malaikat membawa mereka, mereka berseru, ‘Wahai Muhammad!’ Namun ketika mereka melihat Malik, mereka melupakan nama Muhammad ﷺ karena dahsyatnya wibawa Malik. Malik berkata kepada mereka, ‘Siapakah kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang diturunkan Al-Qur’an kepada kami, kami adalah orang-orang yang berpuasa Ramadan.’ Malik berkata, ‘Al-Qur’an tidak diturunkan kecuali kepada umat Muhammad ﷺ.’ Maka ketika mereka mendengar nama Muhammad ﷺ mereka berteriak dan berkata, ‘Kami termasuk umat Muhammad ﷺ.’ Malik berkata kepada mereka, ‘Bukankah dalam Al-Qur’an ada larangan bagi kalian untuk bermaksiat kepada Allah Ta‘ala?’ Ketika mereka berdiri di tepi Jahannam, di hadapan neraka dan para malaikat Zabaniyah, mereka berkata, ‘Wahai Malik, izinkanlah kami menangisi diri kami.’ Maka Malik mengizinkan mereka. Mereka pun menangis hingga air mata mereka habis, lalu yang keluar adalah darah. Malik berkata, ‘Alangkah baiknya tangisan ini seandainya dahulu di dunia dilakukan karena takut kepada Allah, niscaya pada hari ini api neraka tidak akan menyentuh kalian.’ Kemudian Malik berkata kepada para malaikat Zabaniyah…”


Referensi: Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 23

Posting Komentar untuk "Sifat Neraka dan Penghuninya I Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm: 23"